Minah namanya
Kami bertetangga
Saat aku belajar makan telur
Dia makan dari kunyahan biyungnya
Saat aku pergi berseragam
Dia membuat tikar di depan rumah
Kami bermain lompat tali, petak umpet, gobak sodor dan lainnya
Dia jago!
Saat aku mulai kenal fisika
Dia mengenal majikannya di luar sana
Saat orang tuaku bingung membayar uang gedung
Orang tuanya gembira akan buah peluhnya
Ketika aku pusing memilih jurusan
Dia harus terjaga di tengah malam,,meneteki anaknya
Kini aku berdiri dengan Minah, Minah, Minah, Minah dan Minah lainnya
mengelilingiku
Adakah mereka ingin sepertiku?
Ataukah mereka menikmatinya?
CeLatUk viNdi
Minggu, 23 Mei 2010
tak tahu apa
malam ini ku merasa sangat letih
malam ini ku merasa begitu banyak bebanku
malam ini ku merasa
tak tahu apa rasanya
hingga ku hanya ingin
ku hanya ingin di sini,,,,,
malam ini ku merasa sangat lelah
malam ini ku merasa begitu rumit hidupku
malam ini ku merasa
tak tahu apa rasanya
hingga ku hanya ingin
ku hanya ingin di sini
tak melakukan apa-apa,,,,,,,,
malam ini ku merasa begitu banyak bebanku
malam ini ku merasa
tak tahu apa rasanya
hingga ku hanya ingin
ku hanya ingin di sini,,,,,
malam ini ku merasa sangat lelah
malam ini ku merasa begitu rumit hidupku
malam ini ku merasa
tak tahu apa rasanya
hingga ku hanya ingin
ku hanya ingin di sini
tak melakukan apa-apa,,,,,,,,
lupa,,
Baru saja kemarin aku ingat
Bagaimana harus bersujud, menangis dan berserah
Baru saja tadi aku lupa
Lupa bagaimana harus mengingat
Aku sengaja lupa atau diberi lupa?
Aku bertanya sekali lagi
Apakah ini bernama lupa?
Baru saja aku ingin betul-betul mengingat..
Bagaimana harus bersujud, menangis dan berserah
Baru saja tadi aku lupa
Lupa bagaimana harus mengingat
Aku sengaja lupa atau diberi lupa?
Aku bertanya sekali lagi
Apakah ini bernama lupa?
Baru saja aku ingin betul-betul mengingat..
jadi orang tua asuh yuukk,,,
saya dan teman saya seperguruan dan satu morfologi bernama y**i tadi ke rumah zakat,,, qta cari info tentang jadi orang tua asuh,,dan hasilnya seperti ini:
1. Beasiswa ceria SD per bulan 155rb
2. Beasiswa ceria SMP 180rb
3. beasiswa ceria SMA 205rb
4. Beasiswa ceria mahasiswa 500rb
dan masih banyak program keren lainnya.
anaknya boleh milih,,anak yang terdaftar adalah anak2 yang ga mampu, banyak yang yatim,,dengan ibu yang kerja berpenghasilan minim per bulan..kasian d,,
sebaiknya selama setahun ato lebih bagus lagi mpe anaknya luluss. satu anak bisa barengan koq,, pembayaran bisa lewat transfer,,bisa di semua bank.
dan ternyata waiting listnya masih banyak,,,banyak yang belum dpt orang tua asuh,,,kasian d,, So,,kesempatan kita buat bantu,,memberikan hak mereka di rejeki qta,,tabungan masa depan,,, mari bergerakk!!
1. Beasiswa ceria SD per bulan 155rb
2. Beasiswa ceria SMP 180rb
3. beasiswa ceria SMA 205rb
4. Beasiswa ceria mahasiswa 500rb
dan masih banyak program keren lainnya.
anaknya boleh milih,,anak yang terdaftar adalah anak2 yang ga mampu, banyak yang yatim,,dengan ibu yang kerja berpenghasilan minim per bulan..kasian d,,
sebaiknya selama setahun ato lebih bagus lagi mpe anaknya luluss. satu anak bisa barengan koq,, pembayaran bisa lewat transfer,,bisa di semua bank.
dan ternyata waiting listnya masih banyak,,,banyak yang belum dpt orang tua asuh,,,kasian d,, So,,kesempatan kita buat bantu,,memberikan hak mereka di rejeki qta,,tabungan masa depan,,, mari bergerakk!!
PeRpisahaN,,,
Ini dia sebuah kata yang sebisa mungkin dihindari oleh banyak pihak karena memang hampir selalu sarat akan suasana tak mengenakkan. Terbayang sudah kesenduan melanda karena harus mengakhiri kebersamaan dengan sesuatu atau seseorang yang berarti. Diiringi nada minor yang menyayat dengan setting hujan gerimis dan pelibatan secara aktif kelenjar air mata, maka lengkap sudah menjadi sebuah adegan andalan kisah sedih perpisahan, sinetron sekali.
Tapi apapun itu, perpisahan memang identik dengan rasa tak nyaman, seperti apa yang sedang terjadi pada diri saya. Sebuah diagnosis atas gejala dan tanda serta hasil pemeriksaan laboratorium, membuat saya harus berpisah meski tidak selamanya, dengan sesuatu yang ternyata sudah menjadi bagian yang luar biasa penting dalam hidup saya. Demi keselamatan organ tubuh saya yang jarang mengeluh meski mengemban tugas nan berat selama hidupnya, sedapat mungkin saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada sesuatu yang sudah menjadikan hidup saya begitu bergairah, dialah rasa pedas. Ya,, capcaisin, biang keladi dari rasa ini, hampir tak terpisahkan dari lidah setiap kali saya menyantap makanan. Cabai ataupun merica sudah laksana sahabat sejati yang akan selalu saya cari. Sambal adalah primadona, sesederhana apapun hidangan dalam piring saya.
Pedas, cabai, sambal,, sudah saya kenal sejak kecil. Pertumbuhan dan perkembangan tubuh saya pun diiringi dengan gairah mereka dengan intensitas dan kualitas yang semakin bertambah. Batas ambang yang membuat saya kepedesan pun lambat laun meningkat, hingga berbagai julukan saya dapatkan. Bukannya saya mau jadi jagoan, toh ada beberapa teman yang lebih gila lagi memperlakukan cabai rawit pada setiap gigitan gorengannya, tapi memang rasa pedas sudah menjadi kebutuhan dasar layaknya nasi bagi orang-orang negri ini. Alhamdulillah, jarang ada masalah berarti pada sistem pencernaan saya, rupanya mereka sudah dengan cerdasnya beradaptasi, atau memaklumi? entahlah. Kadang saya merasa tak adil terhadap mereka karena lebih sering menganakemaskan lidah dan jarang peduli apakah mereka merasa tersiksa atas segala sesuatu yang saya sodorkan.
Perpisahan ini pun menyisakan pilu dan kehampaan. Makanan yang sebelumnya terasa begitu menggoda, kini meredup pesonanya. Waktu makan, sesuatu yang selama ini menjadi waktu yang ditunggu, sekarang tak lagi istimewa malah berubah status menjadi beban. Waow,,,sebegitu berartikah rasa pedas,,saya sendiri heran. Tapi, seperti nasehat ibu saya, ini adalah salah satu episode hidup saya untuk menjadi manusia yang tak pernah dan tak boleh berhenti untuk belajar sabar, seseuatu yang begitu indah dan dicintai,,kapanpun dan dengan media apapun,, semoga. Dan perpisahan sebenarnya tak melulu berujung sedih,,,pasti ada hikmah di sana.
Tapi apapun itu, perpisahan memang identik dengan rasa tak nyaman, seperti apa yang sedang terjadi pada diri saya. Sebuah diagnosis atas gejala dan tanda serta hasil pemeriksaan laboratorium, membuat saya harus berpisah meski tidak selamanya, dengan sesuatu yang ternyata sudah menjadi bagian yang luar biasa penting dalam hidup saya. Demi keselamatan organ tubuh saya yang jarang mengeluh meski mengemban tugas nan berat selama hidupnya, sedapat mungkin saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada sesuatu yang sudah menjadikan hidup saya begitu bergairah, dialah rasa pedas. Ya,, capcaisin, biang keladi dari rasa ini, hampir tak terpisahkan dari lidah setiap kali saya menyantap makanan. Cabai ataupun merica sudah laksana sahabat sejati yang akan selalu saya cari. Sambal adalah primadona, sesederhana apapun hidangan dalam piring saya.
Pedas, cabai, sambal,, sudah saya kenal sejak kecil. Pertumbuhan dan perkembangan tubuh saya pun diiringi dengan gairah mereka dengan intensitas dan kualitas yang semakin bertambah. Batas ambang yang membuat saya kepedesan pun lambat laun meningkat, hingga berbagai julukan saya dapatkan. Bukannya saya mau jadi jagoan, toh ada beberapa teman yang lebih gila lagi memperlakukan cabai rawit pada setiap gigitan gorengannya, tapi memang rasa pedas sudah menjadi kebutuhan dasar layaknya nasi bagi orang-orang negri ini. Alhamdulillah, jarang ada masalah berarti pada sistem pencernaan saya, rupanya mereka sudah dengan cerdasnya beradaptasi, atau memaklumi? entahlah. Kadang saya merasa tak adil terhadap mereka karena lebih sering menganakemaskan lidah dan jarang peduli apakah mereka merasa tersiksa atas segala sesuatu yang saya sodorkan.
Perpisahan ini pun menyisakan pilu dan kehampaan. Makanan yang sebelumnya terasa begitu menggoda, kini meredup pesonanya. Waktu makan, sesuatu yang selama ini menjadi waktu yang ditunggu, sekarang tak lagi istimewa malah berubah status menjadi beban. Waow,,,sebegitu berartikah rasa pedas,,saya sendiri heran. Tapi, seperti nasehat ibu saya, ini adalah salah satu episode hidup saya untuk menjadi manusia yang tak pernah dan tak boleh berhenti untuk belajar sabar, seseuatu yang begitu indah dan dicintai,,kapanpun dan dengan media apapun,, semoga. Dan perpisahan sebenarnya tak melulu berujung sedih,,,pasti ada hikmah di sana.
Tak hAnya diAm,,
Judulnya seperti lagunya Padi ya,, tak bermaksud apa-apa hanya kebetulan kata-kata inilah yang pas.
Semoga coretan ini tak kalah dengan lagu-lagu Padi yang berkualitas itu,,,,,
Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah kota yang legendaris bagi hidup saya. Bertemu dengan kawan lama,,ah senangya. Lama tak bersua kami pun saling bercerita dan bertanya tentang kabar, keluarga dan kehidupan seperti apa yang sedang dijalani. Banyak hal yang saya dapatkan, salah satunya adalah merintis dan membuka usaha, menjadi anak muda yang berpenghasilan, seperti yang sejak lama saya impikan, kreatif dan mandiri. Namun dari cerita-cerita yang mengalir begitu saja tanpa plot dan alur terencana, ada satu hal yang membuat saya takjub dan berpikir. Seorang kawan bercerita tentang sebuah rutinitas luar biasa yang dilakoninya setiap bulan, yaitu menyetor uang ke sebuah lembaga sosial terpercaya yang salah satu kegiatannya membiayai anak-anak tak mampu untuk sekolah. Ya,,kawan saya merupakan donatur atau bisa disebut orang tua asuh dari seorang anak yang dihentikan langkahnya oleh dunia untuk meraih masa depan. Dia bukan seorang yang terlahir dari keluarga kaya atau berkesempatan mengendarai mobil bagus ke kampus. Ini adalah sebuah indikator bahwa semua orang asal punya keinginan, bisa melakukannya. Tidak terlalu banyak uang yang harus dikeluarkan, yang jelas lebih murah dari harga-harga baju atau sepatu.
Tentu saja kawan saya ini tak bermaksud untuk menyombongkan kedermawanannya, tapi ia hanya sekedar ingin berbagi dan menginspirasi. Tujuan itu berhasil, saya pun terinspirasi dan sekaligus iri. Selama ini yang bisa saya lakukan baru sebatas menyumbangkan perasaan iba untuk anak-anak yang tak mampu sekolah atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu tidak ada, paling-paling menyalahkan pemerintah atau tikus-tikus negara tentang kesemrawutan berkepanjangan yang mengakibatkan banyaknya anak-anak putus sekolah yang kemudian kegiatanya sehari-hari menengadahkan tangan berharap uang recehan. Tak sedikit pula yang kemudian menjadi korban kejahatan atau bahkan sebagai penganut kriminalitas. Semakin dewasa kerusakan yang di buat akan semakin nyata.
Keadaan ini sudah menjadi musuh bersama dan butuh usaha ekstra serta jangka lama untuk menuntaskannya. Banyak pihak sudah melancarkan aksinya untuk menjadi bagian dari perubahan, termasuk kawan saya itu. Lalu saya? Jarang sekali saya melihat ke arah teman-teman yang tak beruntung itu. Padahal di depan mata, di desa tempat saya tinggal, banyak anak-anak yang harus puas dengan seragam merah putihnya dan hanya mampu bercita-cita menjadi seorang 'bakul lombok' saja. Bagi para perempuan muda diharuskan menjadi tangguh di usia yang lebih dini, pergi ke kota atau ke luar negri menjadi pembantu rumah tangga. Lalu beberapa tahun kemudian kepulangan mereka disambut seorang bujang yang siap meminang. Sebelum usia berkepala dua, mereka sudah menjadi wanita dengan gravida dua, yang bertanggung jawab atas masa depan anak-anaknya ditengah keterbatasan, seperti yang dialami oleh teman-teman saya sebaya.
Ah, malu rasanya, karena setelah saya tinjau ulang, banyak waktu yang saya habiskan untuk mengeluh. Saya mudah menyerah oleh kemalasan yang bersandar saat ingin belajar. Baru sebentar membaca buku rasa kantuk pun menyerbu. Padahal ini adalah sebuah kesempatan yang tak semua orang bisa merasakan. Ini merupakan kenikmatan yang seharusnya saya syukuri tanpa henti, bisa menuntut ilmu, dan punya uang saku.
Dan kita harus berbuat sesuatu seperti kawan saya itu,bermanfaat bagi diri kita dan dunia,,dan tak boleh kehilangan kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan.
Semoga coretan ini tak kalah dengan lagu-lagu Padi yang berkualitas itu,,,,,
Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah kota yang legendaris bagi hidup saya. Bertemu dengan kawan lama,,ah senangya. Lama tak bersua kami pun saling bercerita dan bertanya tentang kabar, keluarga dan kehidupan seperti apa yang sedang dijalani. Banyak hal yang saya dapatkan, salah satunya adalah merintis dan membuka usaha, menjadi anak muda yang berpenghasilan, seperti yang sejak lama saya impikan, kreatif dan mandiri. Namun dari cerita-cerita yang mengalir begitu saja tanpa plot dan alur terencana, ada satu hal yang membuat saya takjub dan berpikir. Seorang kawan bercerita tentang sebuah rutinitas luar biasa yang dilakoninya setiap bulan, yaitu menyetor uang ke sebuah lembaga sosial terpercaya yang salah satu kegiatannya membiayai anak-anak tak mampu untuk sekolah. Ya,,kawan saya merupakan donatur atau bisa disebut orang tua asuh dari seorang anak yang dihentikan langkahnya oleh dunia untuk meraih masa depan. Dia bukan seorang yang terlahir dari keluarga kaya atau berkesempatan mengendarai mobil bagus ke kampus. Ini adalah sebuah indikator bahwa semua orang asal punya keinginan, bisa melakukannya. Tidak terlalu banyak uang yang harus dikeluarkan, yang jelas lebih murah dari harga-harga baju atau sepatu.
Tentu saja kawan saya ini tak bermaksud untuk menyombongkan kedermawanannya, tapi ia hanya sekedar ingin berbagi dan menginspirasi. Tujuan itu berhasil, saya pun terinspirasi dan sekaligus iri. Selama ini yang bisa saya lakukan baru sebatas menyumbangkan perasaan iba untuk anak-anak yang tak mampu sekolah atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu tidak ada, paling-paling menyalahkan pemerintah atau tikus-tikus negara tentang kesemrawutan berkepanjangan yang mengakibatkan banyaknya anak-anak putus sekolah yang kemudian kegiatanya sehari-hari menengadahkan tangan berharap uang recehan. Tak sedikit pula yang kemudian menjadi korban kejahatan atau bahkan sebagai penganut kriminalitas. Semakin dewasa kerusakan yang di buat akan semakin nyata.
Keadaan ini sudah menjadi musuh bersama dan butuh usaha ekstra serta jangka lama untuk menuntaskannya. Banyak pihak sudah melancarkan aksinya untuk menjadi bagian dari perubahan, termasuk kawan saya itu. Lalu saya? Jarang sekali saya melihat ke arah teman-teman yang tak beruntung itu. Padahal di depan mata, di desa tempat saya tinggal, banyak anak-anak yang harus puas dengan seragam merah putihnya dan hanya mampu bercita-cita menjadi seorang 'bakul lombok' saja. Bagi para perempuan muda diharuskan menjadi tangguh di usia yang lebih dini, pergi ke kota atau ke luar negri menjadi pembantu rumah tangga. Lalu beberapa tahun kemudian kepulangan mereka disambut seorang bujang yang siap meminang. Sebelum usia berkepala dua, mereka sudah menjadi wanita dengan gravida dua, yang bertanggung jawab atas masa depan anak-anaknya ditengah keterbatasan, seperti yang dialami oleh teman-teman saya sebaya.
Ah, malu rasanya, karena setelah saya tinjau ulang, banyak waktu yang saya habiskan untuk mengeluh. Saya mudah menyerah oleh kemalasan yang bersandar saat ingin belajar. Baru sebentar membaca buku rasa kantuk pun menyerbu. Padahal ini adalah sebuah kesempatan yang tak semua orang bisa merasakan. Ini merupakan kenikmatan yang seharusnya saya syukuri tanpa henti, bisa menuntut ilmu, dan punya uang saku.
Dan kita harus berbuat sesuatu seperti kawan saya itu,bermanfaat bagi diri kita dan dunia,,dan tak boleh kehilangan kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan.
coba peRhatikaN,,
Akhir-akhir ini saya mempunyai kebiasaan baru, disaat pagi dan menjelang petang,,,melihat pohon,,agak aneh kedengarannya, tapi begitulah. Sebuah pohon besar berdiri tegak persis di depan mata saat membuka pintu lantai atas rumah kos saya tercinta, lebih tepatnya pohon mangga besar milik tetangga depan, meskipun besarnya kalah dengan bangunan rumah di sebelahnya yang menjulang. Ya,,sang pohon berada di tengah peradaban manusia yang tak mengenal turunnya harga tanah, hingga memanfaatkannya dengan sepenuh jiwa untuk kelangsungan dan obsesi hidup,,dan akhirnya makhluk seperti pohon hanya mendapat tempat sisa,,sempit, sesak, belum lagi himpitan semen diatasnya yang menambah keterbatasan. Tapi sang pohon di depan rumah sepertinya tabah,,
Ia bukanlah pohon satu-satunya di area pemukiman tempat saya tinggal, ada beberapa pohon lainnya, tapi memang ia yang paling banyak berperan menyumbang kebutuhan paru-paru manusia di sekitarnya. Bersama pohon yang lain yang sudah biasa tak dianggap penting, berlomba menyerap karbondioksida yang semakin melimpah saja sebagai bahan makanan, sangat mandiri dan luar biasa berjasa bagi manusia. Belum lagi buah-buahan yang dihasilkan dan perlindungan dari sengatan UV penyebab berbagai kerusakan. Pantas saja mereka begitu dimuliakan oleh manusia paling mulia, menanam pohon hari ini bila besok akan mati. Wah,,tak boleh dipandang sebelah mata begitu saja,,apalagi turut andil dalam pemusnahannya
Pagi itu udara sejuk, ingin rasanya mengunci mati hawa ini agar tetap bertahan sampai nanti siang atau bahkan sampai kapanpun hingga melunturkan kesan kota tempat saya ditempa ini sebagai kota yang panas tak nyaman. Ah,,tapi tidak mungkin, ya sudahlah nikmati saja, karena justru dengan hawa panas menyiksa itu, kesejukan terasa menjadi sesuatu yang tak hanya biasa-biasa saja, tapi diidamkan hingga berbuah kesyukuran. Setalah membuka pintu, pandangan mata saya lansung tertuju pada sang pohon yang terlihat anggun, dengan daun lebat hijau menentramkan, dan heii,, banyak burung hinggap di sana, entah apa namanya. Burung- burung berkicau meriah sekali, tak ada yang diam ataupun bermalas-malasan melewatkan indahnya pagi, semua beraktivitas dan bersosialisasi. Mungkin ada yang yang bernyanyi, ngobrol, menggosip, berdiskusi tentang berita hari ini atau sekedar menyapa menanyakan kabar. Emmm,, jika Nabi Sulaiman masih ada, mungkin beliau akan berkata " ngawur kamu,,dengarlah,,mereka sedang bertasbih memuja Penciptanya,," Saya jadi malu,,
Ada kehidupan di sana,,layaknya rumah yang nyaman,,sang pohon menjadi tempat singgah sekelompok burung. Dan lebih dari itu, tak hanya tinggal tapi juga beregenerasi,,sang pohon cukup dipercaya untuk menjadi tempat yang aman bagi generasi penerus, di tengah suasana dunia yang memilukan, anak-anak butuh suasana nyaman untuk pertumbuhan yang optimal hingga kelak bisa meneruskan perjuangan menuju mimpi yang diinginkan. Dan sang pohon sepertinya sangat mengerti akan peran dan tanggung jawab itu,,dan berusaha untuk bertahan menjaga kepercayaan dengan tetap berdiri tegak menjalankan apa yang semestinya dilakukan.
Menjelang petang, saat udara mencapai titik jenuhnya,,sang pohon menjadi tempat pulang burung-burung, setia,,,dan mempesona,,ah,,ingin rasanya menjadi seperti dia,,
Ia bukanlah pohon satu-satunya di area pemukiman tempat saya tinggal, ada beberapa pohon lainnya, tapi memang ia yang paling banyak berperan menyumbang kebutuhan paru-paru manusia di sekitarnya. Bersama pohon yang lain yang sudah biasa tak dianggap penting, berlomba menyerap karbondioksida yang semakin melimpah saja sebagai bahan makanan, sangat mandiri dan luar biasa berjasa bagi manusia. Belum lagi buah-buahan yang dihasilkan dan perlindungan dari sengatan UV penyebab berbagai kerusakan. Pantas saja mereka begitu dimuliakan oleh manusia paling mulia, menanam pohon hari ini bila besok akan mati. Wah,,tak boleh dipandang sebelah mata begitu saja,,apalagi turut andil dalam pemusnahannya
Pagi itu udara sejuk, ingin rasanya mengunci mati hawa ini agar tetap bertahan sampai nanti siang atau bahkan sampai kapanpun hingga melunturkan kesan kota tempat saya ditempa ini sebagai kota yang panas tak nyaman. Ah,,tapi tidak mungkin, ya sudahlah nikmati saja, karena justru dengan hawa panas menyiksa itu, kesejukan terasa menjadi sesuatu yang tak hanya biasa-biasa saja, tapi diidamkan hingga berbuah kesyukuran. Setalah membuka pintu, pandangan mata saya lansung tertuju pada sang pohon yang terlihat anggun, dengan daun lebat hijau menentramkan, dan heii,, banyak burung hinggap di sana, entah apa namanya. Burung- burung berkicau meriah sekali, tak ada yang diam ataupun bermalas-malasan melewatkan indahnya pagi, semua beraktivitas dan bersosialisasi. Mungkin ada yang yang bernyanyi, ngobrol, menggosip, berdiskusi tentang berita hari ini atau sekedar menyapa menanyakan kabar. Emmm,, jika Nabi Sulaiman masih ada, mungkin beliau akan berkata " ngawur kamu,,dengarlah,,mereka sedang bertasbih memuja Penciptanya,," Saya jadi malu,,
Ada kehidupan di sana,,layaknya rumah yang nyaman,,sang pohon menjadi tempat singgah sekelompok burung. Dan lebih dari itu, tak hanya tinggal tapi juga beregenerasi,,sang pohon cukup dipercaya untuk menjadi tempat yang aman bagi generasi penerus, di tengah suasana dunia yang memilukan, anak-anak butuh suasana nyaman untuk pertumbuhan yang optimal hingga kelak bisa meneruskan perjuangan menuju mimpi yang diinginkan. Dan sang pohon sepertinya sangat mengerti akan peran dan tanggung jawab itu,,dan berusaha untuk bertahan menjaga kepercayaan dengan tetap berdiri tegak menjalankan apa yang semestinya dilakukan.
Menjelang petang, saat udara mencapai titik jenuhnya,,sang pohon menjadi tempat pulang burung-burung, setia,,,dan mempesona,,ah,,ingin rasanya menjadi seperti dia,,
Langganan:
Komentar (Atom)